TOP LINK

RADIOGRAFER

Thanks to the God for blessing us and make this blog finally released. Its always be a great honour for me to meet all of Radiographer in all over the world, especially in Indonesia, The College Student of TRO, The lecturer, and all of alumni from ASRO, PAMRAD, APRO, ATRO, which is now caled by POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES JAKARTA II JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI, and also every visitors and participant, that maybe doesn't know the meaning of "RADIOGRAFER".

I really hope that, it could be usefull to all Radiographer, alumni, Lecturer, and also the college student, to get information about radiography, job vacation, and also to find a career that suitable for alumni of Jur TRO besides the radiographer.

This blog also bring a good opportunity to all responder, especially the student and lecturer who needs to publish the scription or journal.

And to all alumni who has information about job vacancy or career opportunity, can send the information to stuing00@yahoo.com or wahyuhidayat81@gmail.com

We're waiting for your comment and your information.

The good information will bring you a good vision.

THANKS



Wahyu Hidayat
Poltekkes Depkes Jakarta II
Jurusan Teknik radiodiagnostik dan Radioterapi
Jl. Hang Jebat III/F3 Kebayoran Baru Jakarta Selatan
Stuing00@yahoo.com
Wahyuhidayat81@gmail.com




Hasil Pertemuan PENGDA PARI JAYA Tanggal 10 Mei 2008

Pada hari Sabtu, 10 Mei Telah diadakan rapat kerja Pengda PARI Jaya, yang membahas tentang Sosialisasi SIR dan SIKR.
Rapat tersebut dihadiri oleh rekan-rekan radiografer dari berbagai RS dan UPK di Jakarta.

Rapat Dimulai pukul 10.00 dan berakhir pukul 13.00.

Adapun hasil yang didapat dari rapat tersebut antara lain :

  1. Bahwa SIR dan SIKR wajib dimiliki oleh semua radiografer. Oleh karena itu perlu dilaksanakan pembuatan SIR dan SIKR, untu tahap pertama akan dilaksanakan pengumpulan berkas dari masing-masing radiografer.
  2. Pembuatan SIR dan SIKR berdasarkan tempat bekerja, bukan tempat tinggal radiografer. Contohnya : Jika seorang radiografer bertempat tinggal di depok dan bekerja di Jakarta, maka pengurusan SIR dan SIKR di DKI Jaya, bukan Jawa Barat.
  3. SIKR (surat Ijin Kerja Radiografer) dapat digunakan untuk dua tempat.
  4. Radiografer diharap membayar iuran keanggotaan selama tahun 2008

Agenda Pengurusan SIR

  1. Sosialisasi Dinkes Provinsi 12- 16 mei 2008
  2. Pengumpulan Berkas Anggota PARI 19 - 31 mei 2008
  3. Penerbitan Rekomendasi Profesi 2 - 4 Juni 2008
  4. Pengurusan SIR 2 - 20 Juni 2008
  5. Pengurusan SIKR : Masing-masing Anggota

Persyaratan SIR:

  1. Biodata peserta
  2. Surat Permohonan SIR . (download form biodata dan surat permohonan)
  3. Foto copy ijazah radiografer legalisir
  4. Surat keterangan sehat dan tidak buta warna dari dokter yang memiliki SIP
  5. Pas foto 2x3 = 2 lembar dan 4x6 sebanyak 3 lembar
  6. Surat Keterangan Melaksanakan Tugas dari instansi tempat bekerja (asli +1 foto copy)
Untuk proses pengumpulan berkas dapat dilakukan secara kolektif sesuai dengan wilayah. Dapat menghubungi contact person berikut :
  • Jakarta Pusat : RSCM ( Tri Andayani. 08169019384)
  • Jakarta Barat : RS Sumber Waras ( Rini. 081807526613)
  • Jakarta Timur : RS Persahabatan ( Firman Tawar . 08151662320)
  • Jakarta Utara : RSUD Koja ( Nunuk Megawati . 08161310625)
  • Jakarta Selatan : RS Pondok Indah ( Puji Supriyono . 08129173245)
Masing-masing korrdinator wilayah mengumpulkan berkas anggota wilayahnya ke Sekretariat PARI DKI Jaya :
  • Arief Oesmanto, S.Si : 08161389471
  • Fitrus Ardoni, S.SiT : 0818702539
  • Yulianto : 081381190038
  • Jubaedi : 081315727161

Biaya :
  • Kartu PARI yang baru : Rp.20.000,-
  • Iuaran Anggota selama 1 tahun (2008) : Rp. 60.000,-
  • Sosialisasi dan pengurusan SIR : Rp. 70.000,-
TOTAL : Rp. 150.000

Untuk Pembuatan KTA PARI diharap melangkapi data sebagai berikut :
NAMA :
TTL :
Alamat Kerja :
No Telepon :
Lulus DIII Tahun :
Lulus DIV Tahun :
Dilengkapi dengan foto 2x3 berwarna yang terbaru


Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi sekretariat Pengda PARI DKI Jaya.

Bagi rekan-rekan diluar DKI, dapat menghubungi Pengda PARI masing-masing daerah...

TEKNIK RADIOGRAFI TMJ

PROYEKSI SEMI AXIAL TRANSCRANIAL

PROSEDUR PEMERIKSAAN

  • Pasien diposisikan supine atau duduk tegak, dengan MSP tubuh tepat pada mid line meja pemeriksaan . Bahu bertumpu sejajar pada bidang transversal dan lengan diletakan disamping tubuh dalamposisi yang nyaman.
  • Kepala diposisikan Lateral, dengan menempatkan :
    • MSP kepala sejajar pada bidang film.
    • Interpupillary Line (IPL) tegak lurus bidang film.
  • Pastikan tidak terjadi perputaran pada objek kepala.
  • Atur CR dengan penyudutan 25 – 30 derajat caudally menuju titik tengah dari TMJ.
  • Atur Central Point pada daerah 2,5 cm anterior dan 5 cm superior MAE yang jauh dari film.

HASIL GAMBAR

  • TMJ yang diperiksa terlihat di anterior dari MAE dipertengahan film
  • Condilus mandibula terlihat berada pada fosa mandibula.
  • TMJ yang tidak diperiksa terproyeksi di bagian anterior dan superior TMJ yang diperiksa.
  • Tampak batas luas lapangan penyinaran sesuai dengan objek yang difoto
  • Tampak Marker R/L di tepi objek yang difoto

TEKNIK RADIOGRAFI PETROSUM

PROYEKSI STENVERS

PROSEDUR PEMERIKSAAN

  • Pasien Prone di atas meja pemeriksaan
  • Beri tanda letak petrosum yang akan diperiksa pada 2,5 cm anterior dari MAE sebagai CP
  • Kepala diposisikan 45 derajat ke arah objek yang diperiksa dengan menempatkan :
    • Dahi, hidung dan pipi menempel pada area bidang film.
    • IOML tegak lurus dengan bidang film
  • Central Ray diarahkan menyudut 120 cranially ke pertengahan film
  • Central Point pada daerah pertengahan antara outer canthus dengan MAE ((Steven B. Dowd, Bettye G. Wilson) atau pada 2,5 cm anterior MAE ( Phillip W Ballinger) objek yang menempel film.
KRITERIA GAMBARAN
  • Petrous ridge dan mastoid air cells tervisualisasi pada pertengahan film
  • Processus Mastoideus tampak di bagian bawah batas cranium
  • Condilus mandibula terproyeksi superposisi dengan tulang cervical
  • Canalis auditoris internal, cochle dan tulang-tulang labyrinth terproyeksi di bawah petrous ridge
  • Tampak marker R/L di bagian tepi film radiografi.

PROYEKSI MAYERS


PROSEDUR PEMERIKSAAN
  • Pasien diposisikan supine
  • Beri tanda letak petrosum yang akan diperiksa pada daerah pertemuan daun telinga dengan kepala (tepat di belakang MAE) sebagai CP
  • Kepala diposisikan 45 derajat ke arah objek yang diperiksa dengan menempatkan :
    • MAE daerah yang diperiksa menempel pada pertengahan area bidang film.
    • MSP kepala membentuk sudut 45 derajat dengan bidang film
  • Central Ray diarahkan menyudut 45derajat caudally ke pertengahan film
  • Central Point pada daerah pertengahan MAE objek yang menempel film.
  • Jika sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang telah disesuaikan untuk pemotretan kepala posisi AP.
  • Lakukan pemotretan pada kedua sisi kiri dan kanan.
  • Selesai eksposi lanjutkan proses pencucian film

KRITERIA GAMBARAN

  • Tampak gambaran axio lateral oblique os petrosum
  • Tampak gambaran MAE, Cavum Tympani dan Tulang-tulang pendengaran.
  • Tampak gambaran Antrum Mastoideus
  • Mastoid air cells terproyeksi di atas os petrosum
  • MAE terproyeksi di atas TMJ
  • Marker R/L di bagian tepi film radiografi

TEKNIK RADIOGRAFI NASAL

PROYEKSI LATERAL

PROSEDUR PEMERIKSAAN

  • Pasien diposisikan semiprone atau duduk.
  • Kepala true lateral sehingga MSP kepala sejajar dengan bidang film
  • IPL tegak lurus bidang film.
  • Nasal bone pada pertengahan bidang film.
  • Atur CR tegak lurus bidang film
  • CP pada pertengahan dari os nasal

KRITERIA GAMBARAN

  • Tampak os nasal proyeksi lateral di pertengahan film, tidak terjadi perputaran struktur os nasal.
  • Tampak struktur soft tissue nasal
  • Tampak batas luas lapangan pemotretan (batas kolimasi)
  • Tampak tanda (marker) L/R ditepi gambar.



PROYEKSI WATER’S

PROSEDUR PEMERIKSAAN

  • Pasien prone atau duduk tegak, dengan MSP tubuh tepat pada mid line meja pemeriksaan,bahu bertumpu sejajar pada bidang transversal dan lengan diletakan pada posisi nyaman
  • Posisi obyek posisikan MSP kepala sehingga tegak lurus dengan bidang film, ekstensikan leher dan letakkan dagu pada bidang film, kepala diposisikan agar mentomeatal line tegak lurus dengan bidang film, Orbito meatal line diatur membentuk 37 0 terhadap bidang film
  • Central Ray tegak lurus bidang film
  • Central Point menembus acanthion

KRITERIA GAMBARAN
  • Tampak cartilago septum nasi dipertengahan film tanpa perputran objek
  • Sinus Maksilaris
  • Rongga orbita
  • Batas luas lapangan pemotretan (kolimasi)
  • Tampak marker R/L di tepi gambar.

TEKNIK RADIOGRAFI MANDIBULA

PROYEKSI PA DAN PA AXIAL

POSISI PASIEN :

  • Pasien diposisikan prone atau duduk
  • Tempatkan lengan pada posisi yang nyaman dan atur bahu, sehingga berada pada bidang trasversal yang sama.
POSISI OBJEK :
  • Letakan kepala dimana dahi dan hidung pasien menempel pada bidang film.Untuk mendapatkan ramus mandibula, pusatkan ujung hidung berada pada pertengahan bidang film.
  • MSP kepala tegak lurus pada bidang film.
  • Pastikan tidak terjadi pergerakan/ perputaran pada objek kepala
  • CR Untuk Proyeksi PA : CR tegak lurus bidang film dengan CP di pertengahan antara kedua bibir ( general survey / ramus mandibula)
  • CR Untuk Proyeksi PA AXIAL : CR diarahkan 20 –25 derajat cranially dengan CP menembus ujung hidung ( untuk condylus mandibula).

KRITERIA GAMBARAN

► Kedua ramus dan bodi mandibula terproyeksi simetris
► Keseluruhan bagian mandibula terproyeksi tidak terpotong
► Pada proyeksi PA Axial kedua condylus mandibula terproyeksi dengan jelas
► Marker R/L tampak di bagian tepi film radiografi.



PROYEKSI EISLER

POSISI PASIEN :
  • Prone , semi oblique
POSISI OBJEK :
  • Kepala diatur true lateral, Bagian pipi pasien ditempatkan pada bagian tengah kaset (melintang).
  • Atur agar bagian objek 1,2 cm anterior dan 2,5 cm inferior dari MAE diletakkan dipertengahan kaset.
  • Leher ekstensi dan atur agar ramus mandibula sejajar bidang film
  • Central Ray disudutkan 25 derajat cranially
  • CP : menembus angulus mandibula yang jauh dari film


KRITERIA GAMBARAN
:
  • Ramus mandibula
  • Condilus mandibula
  • Angullus mandibula
  • Ramus mandibula kanan dan kiri tidak overlapping

TEKNIK RADIOGRAFI ARCUS ZYGOMATICUM

PROYEKSI AP AXIAL

PROSEDUR PEMERIKSAAN

  • Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan, dengan MSP tubuh tepat pada mid line meja pemeriksaan. Bahu bertumpu sejajar pada bidang transversal dan lengan diletakkan disamping tubuh dalam posisi nyaman.
  • Kepala diposisikan AP, dengan menempatkan :
    • MSP kepala tegak lurus pada bidang film
    • Kepala fleksi agar Orbito Meatal line (OML) tegak lurus dengan bidang film
  • Pastikan tidak terjadi perputaran pada objek kepala
  • Atur CR dengan penyudutan 300 caudally menuju pertengahan bidang film.
  • Central point pada glabella

HASIL GAMBARAN
  • Tampak kedua arcus zygomaticum terproyeksi bebas superposisi simetris di pertengahan film radiografi
  • Marker R/L tampak di tepi gambar objek

TEKNIK RADIOGRAFI FORAMEN OPTICUM

PROYEKSI RHEESE

PROSEDUR PEMERIKSAAN

  • Persiapkan Alat dan Assesories radiografi yang dibutuhkan untuk praktek radiografi Foramen Opticum
  • Geser tabung sinar x tepat dipertengahan meja pemeriksaan.
  • Atur luas lapangan penyinaran sesuai dengan besarnya obyek, tabung sinar x diatur 90derajat terhadap meja pemeriksaan.
  • Posisi Kepala prone/Postero anterior
  • Tempatkan orbita yang akan diperiksa dipertengahan kaset, dengan pipi, hidung dan dagu menempel meja pemeriksaan.
  • MSP kepala diposisikan 53 derajat terhadap meja pemeriksaan (bidang film) dengan menggunakan alat bantu penyudutan.
  • OML tegak lurus bidang film.
  • Fiksasi kepala dengan menggunakan bantal pasir dan spon agar tidak berubah posisinya.
  • Pertengahan kaset diatur tepat pada jatuhnya sinar X
  • Letakkan Marker R (kanan) atau L (kiri) sesuai posisi objek pada tepi kaset yang tercakup luas lapangan penyinaran.
  • Pastikan Central Ray (CR) tegak lurus dengan bidang film tepat dipertengahan film
  • Central Point (CP) pertengahan orbita yang dekat dengan film
  • Jarak pemotretan (FFD) = 90 cm
  • Berikan faktor eksposi (KV, mA, dan Second) sesuai dengan tebal objek kepala.
  • Selesai eksposi, lakukan prosesing film di Kamar Gelap


KRITERIA GAMBARAN
  • Tampak gambaran canalis opticum (foramen) pada quadrant inferior lateral (Outer Inferior Quadrant)
  • Bagian batas lateral orbita, batas medial, dan batas bawah orbita.
  • Tampak bagian ala parva os sphenoidale
  • Tampak batas luas lapangan penyinaran dan marker R (kanan) atau L(kiri)

TEKNIK RADIOGRAFI FORAMEN MAGNUM

PROYEKSI AP AXIAL


PROSEDUR PEMERIKSAAN

Persiapkan Alat dan Assesories radiografi yang dibutuhkan untuk teknik radiografi Foramen Magnum

  • Geser tabung sinar x tepat dipertengahan meja pemeriksaan.
  • Atur luas lapangan penyinaran sesuai dengan besarnya obyek, sudutkan tabung sinar x 45 derajat Caudally.
  • Kepala diposisikan supine/Antero Posterior, dengan menempatkan Mid Sagittal Plane kepala tegak lurus dengan meja pemeriksaan
  • Orbito Meatal Line (OML) phantom kepala diposisikan tegak lurus dengan meja pemeriksaan.
  • Fiksasi kepala dengan menggunakan bantal pasir dan spon agar tidak berubah posisinya.
  • Pertengahan kaset diatur tepat pada jatuhnya sinar X
  • Letakkan Marker R (kanan) atau L (kiri) sesuai posisi objek pada tepi kaset yang tercakup luas lapangan penyinaran.
  • Pastikan Central Ray (CR) disudutkan antara 45 derajat Caudally.
  • Central Point (CP) menembus 2-2,5 inchi di atas glabella
  • Jarak pemotretan (FFD) = 90 cm
  • Berikan faktor eksposi (KV, mA, dan Second) sesuai dengan tebal objek kepala.
  • Selesai eksposi, lakukan prosesing film di Kamar Gelap.

KRITERIA GAMBAR

  • Tampak gambaran os occipitale
  • Foramen magnum terproyeksi ditengah film
  • Kedua Petrous ridge terproyeksi simetris .
  • Gambar permukaan anterior C1 terproyeksi di dalam Foramen Magnum
  • Tampak batas luas lapangan penyinaran dan marker R (kanan) atau L(kiri)

    PROYEKSI PA AXIAL
    PROSEDUR PEMERIKSAAN
    • Persiapkan Alat dan Assesories radiografi yang dibutuhkan untuk praktek radiografi Foramen Magnum
    • Geser tabung sinar x tepat dipertengahan meja pemeriksaan.
    • Atur luas lapangan penyinaran sesuai dengan besarnya obyek, sudutkan tabung sinar x 45derajat Cranially.
    • Letakkan kepala pada posisi prone/ postero anterior, dengan menempatkan dahi dan hidung menempel pada pertengahan garis meja pemeriksaan
    • Orbito Meatal Line (OML) phantom kepala diposisikan tegak lurus dengan meja pemeriksaan.


    KRITERIA GAMBAR
    • Tampak gambaran os occipitale
    • Foramen magnum terproyeksi ditengah film
    • Kedua Petrous ridge terproyeksi simetris .
    • Gambar permukaan anterior C1 terproyeksi di dalam Foramen Magnum
    • Tampak proyeksi gambar dens (processus odontoid)
    • Tampak batas luas lapangan penyinaran dan marker R (kanan) atau L(kiri)

TEKNIK RADIOGRAFI BASIS CRANII

PROYEKSI SUBMENTO VERTICAL

POSISI PASIEN

  • Pasien Supine di atas meja pemeriksaan
  • Mid Sagittal Plane Kepala tegak lurus dengan bidang film
  • IOML sejajar bidang film
  • Punggung pasien diberi pengganjal dengan bantal, leher full ekstensi kepala bertumpu pada vertex di atas area bidang film
  • Knee fleksi, lengan diposisikan nyaman disamping tubuh dan bahu sejajar bidang transversal.
  • Tabung sinar x tegak lurus dengan infra orbito meatal line kepala

KRITERIA GAMBARAN
  • Tampak Petrous ridge
  • Tulang-tulang pendengaran
  • Processus mastoid
  • Foramen spinosum
  • Foramen ovaleSinus sphenoidales
  • Mandibula arcus zygomaticum
  • Condilus mandibula dengan batas lateral kepala berjarak simetris kanan dan kiri
  • Petrosum terproyeksi simetris
  • Bagian anterior os frontalis superposisi dengan symphisys mandibula
  • Marker R/L tampak di bagian tepi gambar objek.

TEKNIK RADIOGRAFI FORAMEN JUGULARIS

PROYEKSI SUBMENTOVERTIKAL AXIAL METODE KEMP -HARPER

Indikasi Pemeriksaan :
  • * Fraktur
  • * Diferrential Diagnosa


Ukuran Film : 18 X 24 cm

POSISI PASIEN
  • Untuk proyeksi submentovertikal (SMV) axial, posisikan pasien pada posisi supine atau duduk tegak. Pada posisi supine jika diperlukan tubuh pasien diangkat agar kepal full extensi. Kepala lebih diekstensikan akan lebih nyaman bila pada posisi duduk tegak


POSISI OBJEK
  • *Pusatkan MSP tubuh pada pertengahan grid.
  • *Letakkan kepala pasien pada verteknya dan aturlah garis orbitomeatal sejajar dengan film.
  • *Aturlah posisi film sehingga titik tengah tepat mengenal CR.
  • *Tidak ada perputaran / pergerakan kepala.
  • *Mintalah pasien untuk menahan nafas pada saat eksposi
CENTRAL RAY :
  • Arahkan CR ketitik 2,5 cm distel ( menjauhi ) sympisis mandibular pada 20 derajat posterior CR menembus antara pertengahan MAE.
§


HASIL GAMBARAN





MODIFIKASI ERASO

Metode eraso adalah metode yang jarang dipakai untuk pasien-pasien yang mengambil metode SMV Kemp-Harper.

POSISI OBJEK
  • *Posisikan pasien seperti pada posisi Kemp-Harper dengan garis orbitomeatel ditempatkan pada sudut 25 derajat dari bidang film
  • *Dengan MSP kepala tegak lurus bidang film, pusatkan film 2,5 cm dibawah MAE.
CENTRAL RAY
  • *Arahkan CR tegak lurus kepertengahan film kira-kira 5 cm distal dari sympisis mandibular.

STRUKTUR GAMBARAN

  • Kedua proyeksi Submentovertikal axial menunjukan proyeksi foramen jugular, ketika memeriksa prominen mandibula yang ada pada pasien CR dapat ditambah 5 sampai 10 derajat caudally.
KRITERIA EVALUASI
  • Hal-hal berikut harus dengan jelas diperlihatkan :
  • *Foramen jugular terbebas dari superposisi mandibula
  • *Jarak dari kedua mandibula pada tengkorak berjarak sama pada kedua sisinya
  • *Modifiksi eraso akan memproyeksikan pada sudut 5 derajat lebih besar dari pada metode Kemp-Harper


PROYEKSI AP AXIAL (TRANSORAL) METODE CHAUSSE II




Ukuran film 18 X 24 cm

POSISI PASIEN
Posisikan pasien pada posisi supine .

POSISI OBJEK
  • *Rotasikan MSP kepala 10 derajat kearah sisi yang akan diperiksa.
  • *Atur posisi inner canthus pada titik tengah grid.
  • *Extensikan leher sehingga garis ancanthomeatal pada sudut 10 derajat cranially dari vertiakal.
  • *Setelah mengatur CR dan posisi film, periksa kembali posisi kepala pasien dan biarkan dalam posisi tersebut, minta pasien untuk membuka mulut selebar-lebarnya.
  • *Respirasi : Jika memungkinkan perintah pasien mengucapkan “ah-h-h” dengan kondisikan mulut dibuka, Jika tidak memunkinkan minta pasien utuk menahan nafas pada saat eksposi.

CENTRAL RAY :
*CR langsung melalui mulut yang terbuka dengan sudut 25 derajat cranially
*
STRUKTUR GAMBARAN
  • *Foramen jugular pada sisi paling dekat dengan meja seluruhnya terlihat pada mulut yang terbuka diantara bayangan atas dan bagian bawah morals.
  • *Foramen jugural contralateral diperlihatkan dengan jelas seluruhnya pada ramus mandibular superjacent.

KRITERIA EVALUASI
Hal-hal berikut harus dengan jelas diperlihatkan :
*Foramen juguralis pada sisi yang dekat meja dari superposisi dari bagian bawah dan atas moral tau ramus mandibular.
  • *Foramen jugular dalam contralateral terlihat seluruhnya superposisi dengan ramus mandibula.
  • §


TEKNIK RADIOGRAFI SELA TURSICA

PROYEKSI LATERAL

POSISI PASIEN
*
  • nPasien diposisikan duduk tegak atau semi prone
  • nMSP tubuh sejajar dengan bidang film
  • nKepala diposisikan lateral, dengan menempatkan :
    • *MSP kepala sejajar bidang film
    • * garis interpupilary tegak lurus bidang film
  • *Atur kedua bahu agar berada pada bidang transversal yang sama
  • *Atur kepala sehingga garis IOML sejajar dengan garis khayal horizontal film
  • nAtur CR Tegak lurus bidang film
  • nCentral point 2 cm anterior dan 2 cm superior dari MAE


HASIL GAMBARAN
  • *Tampak Sella Tursica proyeksi lateral di pertengahan film
  • *Processus clinoideus anterior kiri dan kanan superposisi
  • *Processus clinoideus posterior kiri dan kanan superposisi
  • *Dorsum sellae dan clivus blumenbachi
*